
Radio buatan Indonesia -sekitar era 70an- ini mempunyai dua varians yaitu "Gema Nusantara MW" dan "Gema Nusantara SW". Seri Gema Nusantara memang dibuat hanya memiliki 1 gelombang saja. Nuansa Indonesia begitu jelas dari penggunaan nama produk "Gema Nusantara" dan juga label antarmuka, yakni tombol "Suara" dan tombol "Gelombang" sebagai ganti dari istilah "Volume" dan "Tuning".
KONDISI SAAT DIDAPATKAN
Dari pemasok saya memperoleh sebuah unit RL-200 berjenis MW, dalam keadaan mati. Tutup belakang sudah raib, dan pegangan radio patah di tengah.
Setelah diperiksa lebih lanjut PCB mesin ternyata terdapat cuil cukup besar dan tampaknya sejumlah komponen pun "ikut terbawa" pada potongan PCB yang hilang. Membran speaker sudah berlubang cukup besar meskipun masih berfungsi.
Namun demikian kondisi body secara umum cukup baik. Selain pegangan patah, hanya terdapat cuil kecil di salah satu sisi bingkai bagian depan, dan kaca mika yang sedikit retak.
Kecantikan radio ini membuat saya tetap berhasrat untuk dapat menghidupkannya kembali.
RESTORASI PEGANGAN RADIO

Sederhana nya saya hanya menyambung kembali bagian yang patah ditengah. Namun jika hanya disambung dengan Alteco saja ketahanannya takkan lama. Tekanan akibat beban radio harus dibagi merata sepanjang batang handle tersebut, jika tidak maka bagian tengah yang sudah disambung itu akan patah kembali.
Oleh sebab itu saya menyisipkan sepotong kayu kecil yang berfungsi sebagai "tulang" ke dalam rongga pegangan. Sebenarnya saya ingin menggunakan bahan plastik keras, namun berhubung adanya hanya potongan kayu maka saya gunakan saja apa yang ada.

Setelah potongan kayu dimasukkan, kemudian di"cor" dengan tetesan Alteco -agar potongan kayu tersebut tidak terlepas keluar.
RESTORASI MESIN
Ada tiga pemikiran dalam benak saya ketika hendak merestorasi bagian mesin. Yakni:
1. 100% me-rekonstruksi ulang mesin radio dengan komponen-komponen aslinya.
Pendekatan ini merupakan pilihan yang paling rumit karena banyaknya titik kabel yang sudah hilang, dan bagian PCB yang pecah entah kemana.
2. Mengganti dengan mesin rakitan dari kit MW yang ada dipasaran.
Namun saya pikir kwalitas kit rakitan nantinya belum teruji, saya mengurungkan pendekatan kedua ini.
3. Mengganti dengan mesin radio transistor National jadul tipe lain yang saya punya, dan sudah saya pastikan berkwalitas baik.
Saya akhirnya memilih pendekatan ketiga ini.
Mesin pengganti saya ambil dari radio lawas juga yakni; National R-4250Y yang terkenal handal, sensitif penerimaannya, irit batere, dan ..dua band pula :)
Jadilah saya korbankan salah satu R-4250Y koleksi saya untuk saya ambil jeroannya.
PCB Asli, berikut potensio asli, dan roda-roda mekanik tuning tetap saya gunakan. PCB R-4250Y saya tempelkan diatas PCB asli Gema Nusantara menggunakan 2 buah spacer. Sebelum ditempelkan, semua komponen pada PCB asli saya buang terlebih dulu agar PCB asli menjadi polos dan datar.
Varco pada mesin pengganti saya copot, kemudian saya pasang pada PCB asli agar memudahkan penyesuaian mekanisme tuning. Potensio pada mesin pengganti juga saya copot, karena akan menggunakan potensio dari PCB asli. Saya berterimakasih pada National karena menggunakan "potensio standar radio National" yang berukuran 50k ohm, sehingga untuk perubahan pada potensio tidak perlu ada penggantian komponen lainnya.
Varco dan Potensio dihubungkan ke PCB mesin pengganti dengan potongan-potongan kabel kecil.
Penempatan PCB pengganti "diatas" PCB asli membuat ruang untuk batere menjadi sempit. Namun jika toh cukup, wadah batere asli yang memuat 4 buah batere (6V) menjadi tidak cocok dengan spesifikasi mesin pengganti yang hanya butuh 2 buah batere saja (3V). Sebagai solusinya, saya menambahkan wadah batere kecil 3V yang diletakkan pada ruang dibelakang speaker.

Langkah selanjutnya adalah men-tune frekwensi yang diterima oleh mesin baru, dengan penunjukkan jarum tuning yang terbaca. Dalam restorasi ini saya memperoleh "wawasan baru" mengenai mesin National R-4250Y.
Awalnya saya saya men-tune dengan memutar koil osilator berwarna merah, sebagaimana yang selama ini saya ketahui bahwa koil osilator MW adalah koil semacam IFT koil yang berwarna merah. Saya heran ketika diputar-putar penerimaan MW nya tidak bergeser/ tidak berubah sama sekali. Lalu saya coba-coba putar koil osilator yang berada di sebelahnya yang berwarna biru kelabu. Dan benar saja, gelombang MW yang diterima berubah. Dari sini saya simpulkan bahwa radio National lawas khususnya R-4250Y, menggunakan koil osilator merah untuk SW, dan biru/ hijau kelabu untuk osilator MW nya.

Untung saja hanya selang berapa hari saya sudah dapatkan speaker pengganti yang identik, dari pasar loak.
FINISHING
Untuk melengkapi kesempurnaan restorasi, saya buatkan tutup belakang dari potongan bahan MDF. Papan MDF dipotong sesuai pola bagian belakang radio, kemudian diberi lubang-lubang akustik di bagian belakang speaker.
Sebagai tambahan, saya juga berikan jack DC agar radio ini dapat bekerja menggunakan eksternal adaptor. Konfigurasi plus-minus jack tersebut saya buat mengikuti kaidah standar National yakni kutub positif pada sisi luar, dan negatif pada sisi dalam.
Karena Gema Nusantara MW tidak menggunakan antena teleskopik (dan memang gelombang MW hanya membutuhkan batang ferit sebagai antena nya), maka titik solder antena pada PCB mesin pengganti saya berikan kabel pendek saja untuk dapat dihubungkan dengan antena luar jika diperlukan; terutama jika hendak menggunakan gelombang SW nya -yang merupakan bonus dari restorasi dengan mesin R-4250Y.
Kabel sambungan Antena luar tersebut saya sampirkan mencuat pada guratan tutup belakang, yang merupakan ciri khas radio-radio National jadul.
![]() |
Tampak muka setelah restorasi, tidak banyak perubahan selain lebih cling |
![]() |
Tampak dalam setelah restorasi |
---oOo---
Aksi radio Gema Nusantara hasil restorasi ini dapat disaksikan pada video berikut:
http://youtu.be/o4_fodeq8oY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar